Hegemoni Zionis di dunia

Tak ada yang menyangka bahwa kelak orang-orang Yahudi di seluruh dunia akan kembali ke Palestina. Mereka berhasil masuk ke Tanah Suci dengan berbagai cara. Padahal sebelumnya, mereka adalah komunitas yang terpencar antara satu dengan yang lainnya. Mereka tidak mempunyai tanah permanen untuk ditinggali. Mereka pergi dari kampung halaman mereka sendiri ke negri-negri orang karena terusir dari negrinya sendiri. Itu semua tidak lain atas ulah mereka sendiri seperti makar mereka yang dibuat kepada para Nabi dan kejahatan-kejahatan yang mereka buat di Palestina.

Mereka mengklaim bahwa mereka adalah pemilik yang sesungguhnya dari Tanah Suci. Apakah demikian?, bukankah dulu ketika mereka hidup disana mereka membuat kerusakan-kerusakan. Mereka membunuh para Nabi dan orang-orang Shalih. Mereka telah menumpahkan darah para Nabi dan menghalang-halangi orang untuk menerima dakwahnya. Apakah mereka pantas mewarisi Tanah Suci?.

Tidak sekali-kali tidak. Tanah Suci adalah tanah yang Allah berikan kepada mereka yang beriman kepadanya dan kepada rasul-rasulnya. Mereka tak pantas mengklaim bahwa mereka adalah pemilik asli dari tanah itu. Kalaulah mereka pantas memiliki tanah itu, pasti mereka takkan diusir dari sana berkali-kali sejak ribuan tahun lalu. Allah swt berfirman mengenai buminya dan siapa yang pantas mewarisinya,

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lohmahfuz, bahwasanya bumi ini diwarisi kepada hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Anbiyaa : 105)

Allah berfirman bahwa sesungguhnya yang berhak melestarikan bumi ini adalah hamba-hambanya yang shalih. Yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan rasulnya Muhammad. Mereka yang mengisi masjid-masjid Allah untuk beribadah kepadanya. Hanya orang-orang Islam yang pantas mewarisi Tanah Suci tersebut. Buktinya, ketika Palestina masih dalam pendudukan Turki Utsmani, semua orang bebas beribadah di Jerussalem. Tak peduli apa agamanya, mereka dapat beribadah sesuai kepercayaanya masing-masing. Namun lihatlah ketika Zionis mendudukinya, mereka melarang para pemuda muslim untuk sholat Jum’at. Mereka membakar Masjidil Aqsha dan bahkan mereka pernah merusak apa-apa yang ada di dalamnya. Apakah mereka pantas mewarisi Tanah Suci?.

Pendudukan mereka atas Tanah Suci adalah tidak lain karena bantuan negara-negara yang telah menjadi sahabat mereka. Mereka mampu menekan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan di Tanah Suci untuk memberikan hak Tanah tersebut untuk mereka. Setelah mereka berhasil mendapatkan mandat dari otoritas (Inggris) tersebut, mereka menjadikan Amerika sebagai sandaran dalam mengatur kepentingan mereka di otoritas tertinggi dunia (PBB). Sehingga, terlihatlah bagaimana Amerika selalu berdiri bersama Israel dalam setiap perkara dan masalah di sidang PBB. Amerika selalu menjadi malaikat penjaga Israel yang tak kenal waktu dan kondisi, meski Israel sering berbuat aniyaya dengan negara-negara di sekitarnya. Mereka yang memperhatikan sikap parsial Amerika terhadap Israel akan melihat bagaimana mesranya hubungan antara dua negara meski salah satunya sering melanggar perjanjian dengan yang lainnya.

Pengaruh Zionis di Amerika

Lobi Zionis di Amerika adalah salah satu fenomena politik yang menjadi isu hangat dalam konteks kebijakan luar negri Amerika Serikat. Lobi-lobi itu mempunyai jaringan yang kuat dalam badan eksekutif dan legislatif. Mereka mampu membangun idealisme bersama untuk mendukung Israel dan melindunginya dari setiap tekanan internasional. Tak diragukan lagi, siapa saja yang tidak mendapat dukungan dari kelompok Lobi Yahudi di Amerika, maka dipastikan dia tidak akan dapat memenangi kursi jabatan baik sebagai anggota Parlemen atau Presiden. Setiap calon Presiden yang ingin maju menjadi Presiden di Amerika Serikat, maka dia harus bersumpah setia mendukung setiap kebijakan yang pro Israel. 

Amerika telah menjalankan diplomasi palsu untuk kepentingan ekonomi dan politik sendiri. Mereka selalu menggembor-gemborkan demokrasi dan HAM dalam setiap kancah internasional. Namun jika mereka dihadapkan dengan Israel, diplomasi itu akan menjadi bukti bahwa sesungguhnya Amerika telah menerapkan standar ganda. Amerika adalah negara yang menjadi tonggak berdirinya demokrasi dan humanisme. Mereka akan mengutuk dan mengecam setiap aksi pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh dunia. Bahkan kalau perlu, mereka akan menginvasi negara tersebut dan menerapkan sistem demokrasi secara utuh. Tapi, jika Israel membunuh ribuan warga sipil Palestina, Amerika takkan berani untuk mengutuknya. Takkan ada kecaman bahkan komentar sedikitpun dari Presiden Amerika atau Pemerintahannya untuk menyetop tindakan brutal mereka. Seakan-akan mereka mendukung kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel.

Amerika adalah negara penggagas Demokrasi dan Hak Asasi Manusi di dunia, namun anaknya sendiri, Israel, adalah negara pelanggar HAM. Amerika adalah negara yang selalu mengupayakan operasi militer di negri-negri yang tidak menjalankan HAM secara utuh, tapi anaknya sendiri, Israel, adalah negara yang rajin melakukan pelanggaran HAM terhadap rakyat Palestina. Bagaimana mungkin seseorang menyuruh orang lain untuk baik, namun anaknya sendiri adalah pelaku dosa.

Dalam percaturan dunia, Amerika juga dikenal sebagai “Sang Veto” bagi Israel. Jika negara-negara di PBB berniat untuk menjatuhkan sanksi atas Israel karena kejahatan perangnya, maka Amerika adalah negara pertama yang memvetonya. Tercatat sudah lebih dari 20 hak veto yang digunakan oleh Amerika untuk melindungi Israel dari ancaman dan tekanan internasional.   

Israel adalah negara terbesar yang menerima bantuan luar negri Amerika Serikat semenjak perang dunia kedua. Dari tahun 1976-2004, Israel adalah penerima bantuan tahunan terbesar Amerika Serikat, apalagi semenjak perang Iraq tahun 1985, Amerika telah memberikan hampir $ 3 milyar setiap tahunnya kepada Israel.[1] Jumlah itu setara dengan subsidi secara tidak langsung untuk setiap warga Israel sebesar $500 setiap tahunnya. Sangat besar dibandingkan dengan bantuan luar negri Amerika ke negri lainnya seperti Mesir, Pakistan, dan Haiti. Jika dibandingkan jumlah dengan rata-rata warga Mesir yang hanya mendapat $20 dan Pakistan $5.[2]

Belum lagi bantuan dalam bidang Militer, Israel adalah penerima bantuan Militer terbesar dibandingkan Negara-negara lainnya seperti Pakistan. Pada tahun 1971, Israel telah menerima bantuan luar negri dari Amerika sebesar 634.5 juta US $ yang 85 % khusus untuk bidang militer. Sejak tahun 1974, beberapa atau hampir semua bantuan militer Amerika kepada Israel berbentuk pinjaman yang repaymentnya dibebaskan. Teknisnya, bantuan itu disebut pinjaman, tapi dalam prakteknya, bantuan militer tersebut adalah hibah[3].

Amerika sangat anti untuk menjual persenjataannya kepada negara-negara yang terbukti melakukan pelanggaran HAM. Mereka takkan pernah menjual senjata-senjata kepada Negara yang terbukti melakukan pelanggaran HAM. Namun, mereka akan menerapkan standar ganda kepada Israel.  

Amerika dikenal anti untuk memberikan bantuan militer dan menjual alat alutista kepada negara-negara yang melakukan pelanggaran HAM. Contohnya Indonesia, Amerika pernah mengembargo penjualan senjata dan alat alutista ke Indonesia akibat konflik Timor Leste. Mereka menilai Indonesia akan menggunakan alat alutista mereka untuk membunuh warga sipil Timor Leste. Merekapun mengembargo untuk sekian lama hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mencabut embargonya kembali. Bandingkan dengan Israel, Negara ini dengan sengaja membunuh ribuan warga sipil tak bersalah, yang notabeni senjata-senjatanya adalah bantuan dari Amerika. Bagaimana mungkin Negara yang memproklamirkan HAM justru diam seribu bahasa ketika persenjataannya digunakan untuk melanggar HAM. Standar ganda yang dilakukan oleh Amerika kepada Israel membuktikan bahwa Negara ini bukan saja sudah menjadi pelindung Israel namun juga sudah didikte dengan sebenar-benarnya dikte.      

Sesungguhnya, lobi-lobi Zionis di Amerika telah membuat negara itu dalam kontrol yang membuat mereka terdikte dengan sendirinya. Mereka telah dikontrol dengan jaringan-jaringan yang masuk ke dalam badan eksekutif dan legislatif. Bayangkan saja, jumlah bantuan luar negri yang diberikan Amerika kepada Israel adalah seperenam dari total semua bantuan luar negri Amerika ke negara-negara di dunia.

Presiden Amerika, Harry Truman, pernah menulis sebuah catatan mengenai lobi-lobi Zionis yang berupaya untuk mempengaruhi kebijakan luar negrinya, 

“Faktanya, tak hanya di PBB terlihat gerakan-gerakan yang menekan (untuk meluluskan kepentingannya) yang tak pernah terlihat di sana sebelumnya, tetapi, bahkan di Gedung Putih pun ada,  mereka melakukan upaya-upaya tersebut dengan terus-menerus. Saya tak pernah berpikir saya akan mendapat tekanan dan propaganda sebegitunya yang ditujukan ke Gedung Putih, seperti yang saya rasakan saat ini. Ketekunan dari sebagian pemimpin zionis yang ekstrim-dilakukan demi motif politik dan dilaksanakan dengan ancaman-ancaman politik-sungguh telah menggangguku dan mengecewakanku”.[4]

Suara-suara anti Lobi Yahudi lainnya muncul dari James Frostal, Menteri Pertahanan Amerika Serikat ketika Harry Truman berkuasa, yang mengusulkan agar Amerika Serikat melepaskan diri dari pengaruh Yahudi, terutama untuk masalah yang berkaitan dengan masalah Palestina. Dengan tegas Frostal mengatakan:

“Tidak seorang pun warga Yahudi Amerika Serikat yang berhak mempengaruhi aktivitas politik melalui cara yang dapat mengancam keamanan nasional Amerika Serikat.”

Namun apa daya, mereka sudah menguasai Ekonomi dan Media Amerika serikat, hal itu membuat mereka mampu menekan Presiden Harry Truman untuk membantu berdirinya negri Israel. Ketika berdirinya negara Israel diumumkan, lima menit kemudian, Truman mengakui kedaulatan negeri Zionis itu. Selain itu, dia pun menginstruksikan pengiriman 100.000 warga Yahudi ke bumi Palestina. Melalui tekanan-tekanan politiknya, dia memperjuangkan agar negara Zionis dapat menjadi anggota PBB.  

 


[1] CRS Report RL33476. Jeremy M. Sharp

[2] Mearsheimer and Stephen M. Walt. The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy

[3] Ibid.

[4] Jewish Lobby in America. Wikipedia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: