hegemoni zionis di dunia

Salah satu utopia para Zionis di dunia adalah membentuk badan Internasional yang akan menjamin keberadaan Israel. Mereka ingin menjadikan lembaga tersebut sebagai wadah untuk melindungi Israel dari segala bentuk ancaman dari negara-negara yang ingin menghancurkannya. Badan dunia tersebut adalah PBB. Sejak awalnya, PBB didirikan untuk menjamin kemerdekaan negara-negara yang baru lahir dan untuk menciptakan perdamaian dunia sesuai dengan keinginan negara-negara anggota. Mereka ingin agar tak ada lagi peperangan yang akan memusnahkan umat manusia dan menjatuhkan mereka dalam dendam abadi. Seiring berjalannya waktu, badan dunia yang dibuat demi perdamaian dan keadilan dunia itu justru menjadi lahan negara-negara adikuasa untuk menghancurkan dan memerangi negara-negara yang menolak kepentingan mereka. Sehingga nampak jelas bahwa yang paling berkuasa dalam PBB adalah negara-negara adikuasa yang mempunyai hak untuk berlaku sewenang-wenang terhadap setiap negara yang melawan hegemoni mereka. Mereka akan melakukan proses legitimasi untuk mendukung program-program Zionis. Yaitu dengan sanksi, embargo, dan hak veto terhadap negara-negara yang menentang ketidakadilan Amerika dan Israel.

Di PBB, Israel adalah satu-satunya negara yang tak pernah mendapat sanksi karena kejahatan perangnya. Padahal, negara ini telah melakukan banyak sekali pelanggaran HAM seperti pembunuhan warga sipil, pencaplokan tanah secara ilegal dan pembangunan pemukiman di wilayah Palestina. Mereka juga telah melakukan sabotase politik dengan membunuh dan menangkap politisi-politisi Hamas yang mereka nilai membahayakan Israel. Namun, hal itu tak cukup membuat Israel dikurung dalam sanksi ataupun embargo. Padahal, sudah muncul banyak laporan-laporan yang dibuat oleh organisasi HAM dunia seperti HRW dan lainnya yang membeberkan bukti-bukti pelanggaran Israel.

Bandingkan dengan negara-negara seperti Iran, Iraq, dan Libya. Mereka hampir runtuh karena sanksi dan embargo yang dilakukan oleh PBB. Padahal yang mereka jalankan adalah demi kepentingan nasional mereka sendiri.

Di bidang nuklir, Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang tidak menandatangani Program non-proliferasi nuklir. Hal itu membuatnya terbebas dari inspeksi nuklir dari badan nuklir dunia. Padahal pada tahun 1968, CIA telah melaporkan bahwa Israel secara diam-diam telah mengembangkan senjata nuklir. Mereka mempunyai senjata-senjata nuklir yang disembunyikan dalam tempat yang dirahasiakan. Meski sudah banyak tekanan Internasional untuk mendesak Israel menandatangani program non-proliferasi nuklir, Israel tetap tak bergeming. Beda halnya dengan sikap Amerika yang ditujukan kepada Iran, negara ini sudah hampir collapse akibat embargo-embargo yang ditujukan kepadanya. Mereka dihancurkan dengan embargo ekonomi yang membuat negara itu bergerak dalam arus sempit perdagangan dunia. Padahal nuklir yang mereka kembangkan adalah nuklir untuk kepentingan medis.

Mereka juga menjalankan program-program ekonomi dunia yang berkuasa dibawah satu kendali, IMF. Organisasi yang bermarkas di Washington itu berperan besar dalam penelantaran ekonomi negara-negara miskin melalui monopoli atas potensi mereka. Mereka menerapkan kebijakan pinjaman bantuan ekonomi yang menuntut negara peminjam untuk patuh dan taat dengan aturan-aturan yang akan mengekploitasi sistem keuangan dalam negri. Pinjaman-pinjaman tersebut berbentuk pinjaman yang bentuknya seperti riba dan akan memberatkan negara-negara miskin dan berkembang yang sangat butuh untuk mengembangkan ekonomi mereka.

Mereka menetapkan kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung stabilitas ekonomi di negara-negara peminjam. Seperti pola pemberian bantuan finansial yang selalu disertai “syarat-syarat”, termasuk juga Structural Adjustment Programmes. Syarat-syarat ini menurunkan kestabilan sosial, yang juga berarti menghambat tujuan-tujuan IMF. IMF membatasi perekonomian negara dunia berkembang dengan cara menentang pengembangan infrastruktur dan meminta negara yang bersangkutan untuk hidup dengan standar yang rendah. [1]

Ketika terjadi krisis finansial di Asia Tenggara pada tahun 1997, seorang Kapitalis Yahudi Hungaria, George Sorors, berhasil memanfaatkan momentum ini untuk bermain spekulasi mata uang. Dialah yang memanfaatkan krisis mata uang untuk kepentingan dirinya sendiri. Dengan terjadinya krisis itu, maka negara-negara berkembangpun ikut merasakan dampak yang sangat berat. Merekapun memutuskan untuk mengambil pinjaman IMF agar segera memulihkan keadaan ekonomi mereka. Salah satunya adalah Indonesia yang nekat untuk mengambil pinjaman dari IMF.

Seorang Ekonom bernama Paul Krugman pernah berkomentar tentang dampak krisis yang dimainkan George Soros di Pasar Dunia,

“Tak ada seorangpun yang telah membaca majalah ekonomi di tahun-tahun sebelumnya bisa tak sadar bahwa hari ini, telah muncul investor-investor yang tidak hanya memindahkan uang sebagai antisipasi jika krisis mata uang datang, akan tetapi mereka juga berusaha sekuat tenaga untuk mendorong krisis tersebut untuk bersenang-senang dan keuntungan mereka semata. Aktor-aktor baru ini belum mempunyai sebuah nama standar; yang saya maksud adalah ‘Soroi’ (kelompok George Soros).”[2]

Indonesia yang saat itu sangat kacau dengan kerusuhan dan krisis, mau tak mau harus mengambil dana bantuan dari IMF. Indonesia seperti Raja yang sudah skakmat dan hanya bisa menyerah terhadap kebijakan IMF. Bantuan itu tak lantas membuat Indonesia cepat bangkit dari krisis. Indonesia masih diberatkan oleh beban utang swasta yang menjadikan proses recovery ekonomi melambat.

Mereka yang tidak menerima dana itu justru mampu bangkit dari krisis Finansial seperti Malaysia. Negara itu mampu bangkit dari krisis dan ekonominya mampu tumbuh sedia kala. Malaysia menolak bantuan Pinjaman dari IMF karena menurut Pemimpinnya, Mahathir Muhammad, sumber krisis tersebut adalah para Spekulan yang bermain untuk kepentingan mereka sendiri. Menurutnya dalang sebenarnya yang menjadikan krisis menjadi-jadi adalah seorang Yahudi yang tidak lain adalah George Soros,

“(krisis) Ini dilakukan oleh seorang Yahudi yang mendorong terjadinya krisis mata uang”[3]

Berbeda dengan Israel, negara ini adalah satu-satunya negara di dunia yang tak pernah terkena krisis finansial. Menurut survei Internasional, ekonomi Israel tak pernah runtuh akibat krisis.[4] Ekonomi mereka selalu ditunjang dengan bantuan ekonomi Amerika yang membuat mereka menjadi negara Industri maju baru bersama Korea Selatan.


[1] Wikipedia/dana moneter internasional

[2] Krugman, Paul (1999). The accidental theorist: and other dispatches from the dismal science. New York: W. W. Norton & Company. p. 160.

[3]  “Mahathir’s dark side”. The Daily Telegraph (London). October 24, 2003.

[4] Penelitian oleh lembaga riset IMD.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: